Minggu, 12 Februari 2012

Sejarah Topeng Cirebon

Menulis tentang keberadaan seni Tari Topeng Cirebon dengan kaitannya di dalam Keraton Cirebon, maka tidak bisa lepas dari perjalanan sejarah berdirinya Penguasa Islam di daerah pesisir ini.

Pada saat berkuasanya Sunan Gunung Jati sebagai Pimpinan Islam di Cirebon, maka datanglah percobaan untuk meruntuhkan kekuasaan Cirebon di Jawa Barat. Tokoh pelakunya adalah Pangeran Welang dari daerah Karawang. Tokoh ini ternyata sangat sakti dan memiliki pusaka sebuah pedang bernama Curug Sewu. Penguasa Cirebon beserta para pendukungnya tidak ada yang bisa menandingi kesaktian Pangeran Welang. dalam keadaan kritis maka diputuskan bahwa utnuk menghadapi musuh yang demikian saktinya harus dihadapi dengan diplomasi kesenian. Setelah disepakati bersama antara Sunan Gunung Jati, Pangeran Cakrabuana dan Sunan Kalijaga maka terbentuklah team kesenian dengan penari yang sangat cantik yaitu Nyi Mas Gandasari dengan syarat penarinya memakai kedok/topeng.

Mulailah team kesenian ini mengadakan pertunjukan ke setiap tempat seperti lazimnya sekarang disebut ngamen. dalam waktu singkat team kesenian ini menjadi terkenal sehinga Pangeran Walang pun penasaran dan tertarik untuk menontonnya. Setelah pangeran Walang menyaksikan sendiri kebolehan sang penari, seketika itu pula dia jatuh cinta, Nyi Mas Gandasari pun berpura – pura menyambut cintanya dan pada Saat Pangeran Walang melamar maka Nyi Mas Gandasari minta dilamar dengan Pedang Curug Sewu. Pangeran Walang tanpa pikir panjang menyerahkan pedang pusaka tersebut bersamaan dengan itu maka hilang semua kesaktian Pangeran Walang.

Dalam keadaan lemah lunglai tidak berdaya Pangeran Walang menyerah total kepada sang penari Nyi Mas gandasari dan memohon ampun kepada Sunan Gunung Jati agar tidak dibunuh. Sunan Gunung Jati memberi ampun dengan syarat harus memeluk agama Islam. Setelah memeluk agama Islam Pangeran Walang dijadikan petugas pemungut cukai dan dia berganti nama menjadi Pangeran Graksan. Sedangkan para pengikut Pangeran Walang yang tidak mau memeluk agama Islam tetapi ingin tinggal di Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk menjaga keraton – keraton Cirebon dan sekitarnya.

( Cerita ini diambil dari buku Babad Cirebon Carang Satus dan pernah dipentaskan melalui pagelaran Wayang Golek Cepak oleh Dalang Aliwijaya di Keraton Kacirebonan Cirebon ).

Melihat keberhasilan misi kesenian topeng bisa dijadikan penangkal serangan dari kekuatan – kekuatan jahat maka pihak penguasa Cirebon menerapkan kesenian topeng ini untuk meruat suati daerah yang dianggap angker. Dan kelanjutannya kesenian topeng ini masih digunakan di desa – desa untuk upacara ngunjung, nadran, sedekah bumi dan lain – lainnya.

Setelah masyarakat menerima tradisi meruat itu, di samping harus ada pagelaran wayang kulit juga harus menampilkan tari topeng, maka tumbuh suburlah penari – penari topeng di Cirebon. Namun yang mula – mula menarikan tari topeng ini kebanyakan para dalang wayang kulit yang sebelum pentas wayang, pada siang hari sang dalang harus menari topeng terlebih dahulu. Oleh karenanya para dalang wayang kulit yang lahir sebelum tahun 1930 diwajubkan untuk mendalami tari topeng terlebih dahulu sebelum menjadi dalang wayang kulit. Dalam hubungannya pihak keraton selalu melibatkan kesenian untuk media dakwah dalam penyebaran agama Islam, dan pihak keraton memberikan nama Ki Ngabei untuk seniman yang juga berdakwah.

Kesenian tari topeng Cirebon menjalankan sisi dakwah keagamaan dengan berpijak kepada tata cara mendalami Islam di Cirebon yang mempunyai 4 (empat) tingkatan yang biasa disebut : Sareat, Tarekat, Hakekat dan Ma’ripat.

Minggu, 05 Februari 2012

Lion Air Prihatin terhadap Pilotnya yang Nyabu

Kembali, pilot maskapai penerbangan Lion Air tertangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) usai mengonsumsi narkotika jenis sabu-sabu di Hotel Garden Palace, Surabaya, Sabtu (4/2) pukul 03.30 WIB. Sedianya, pelaku akan menerbangkan pesawat JT 708 rute Surabaya-Makassar pada pukul 06.00 WIB.

"Kita sangat menyesalkan, oknum merupakan orang intelek dan sadar hukum. Peristiwa itu menjadi pertanyaan, mengapa melakukan kesalahan," ujar Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air kepada Media Indonesia, Minggu (5/2).

Ia menjelaskan masalah penggunaan obat terlarang oleh pilot merupakan keputusan pribadi masing-masing. Alasannya, pihaknya tidak memungkinkan melakukan pemantauan aktivitas selama 24 jam.

"Kita sudah berupaya melakukan pencegahan maupun upaya penanggulangan lainnya, seperti mengambil sample urine, melakukan sosialisasi akan bahaya dari narkotika. Namun jika masih ada oknum pilot yang menggunakan obat terlarang, itu di luar kendali," paparnya.

Menurut Edward, pilot merupakan orang yang berpedoman dengan aturan, pastinya sudah sangat mengetahui bahwa itu dilarang dan sangat membahayakan banyak orang.

"Mereka pastinya sudah mengetahui apa yang boleh dan apa yang tidak, di aturan kita sudah jelas, dan sudah jelas mengonsumsi obat-obatan itu dilarang. Jadi jika masih ada yang melanggar, tentunya itu perbuatan pribadi, dan kita prihatin," jelasnya.

Pengawasan, tambah Edward, akan diberlakukan melalui tes narkotika menjelang pilot menjalankan kewajibannya. Pengujian diberlakukan secara acak dan berkala.

Di sisi lain, manajemen Lion Air akan berdiskusi dengan pihak Kementerian Perhubungan, Kepolisian, dan BNN. Hal itu dilakukan untuk mecari jalan keluar mengatasi permasalahan yang tengah dihadapi.

"Kami tidak punya keahlian untuk mendeteksi, jadi kami akan menemukan metode yang tepat untuk melakukan pemeriksaan dan menemukan awak-awak pesawat yang terindikasi mengonsumsi narkoba," ungkapnya.

Edward menolak bila ada desakan yang meminta Lion Air berhenti beroperasi sementara guna menyaring para para pilot yang ditengarai mengonsumsi narkoba. "Jangan mencari sebagian tikus di dalam lumbung, kemudian lumbungnya dibakar. Itu tidak rasional," tegasnya.